Semarang, 21 Agustus 2026 – ISPA dan iritasi asap sama-sama bisa membuat saluran pernapasan terasa tidak nyaman. Batuk, tenggorokan gatal, dan hidung berair bisa muncul setelah seseorang mengalami gangguan pada saluran pernapasan.
Namun, keduanya punya penyebab yang berbeda. ISPA berkaitan dengan infeksi, sedangkan iritasi asap terjadi karena saluran pernapasan terkena asap atau partikel yang mengganggu. Karena itu, penting untuk mengenali perbedaannya agar tidak salah mengira.
Apa Itu ISPA?
ISPA adalah infeksi yang menyerang saluran pernapasan. Penyebabnya bisa berupa virus atau bakteri. Infeksi ini dapat menyerang bagian atas maupun bawah saluran pernapasan.
Gejala ISPA cukup beragam. Batuk dan pilek menjadi keluhan yang sering muncul. Selain itu, seseorang juga bisa mengalami demam, sakit tenggorokan, hidung tersumbat, atau tubuh terasa lemas.
Pada beberapa kasus, gejala dapat berlangsung selama beberapa hari. Kondisinya juga bisa berbeda pada setiap orang. Karena itu, perhatikan perubahan gejala yang muncul.
Apa Itu Iritasi Asap?
Berbeda dengan ISPA, iritasi asap terjadi karena saluran pernapasan terpapar asap atau partikel tertentu.
Asap rokok, asap kendaraan, dan asap kebakaran bisa menjadi pemicunya. Paparan tersebut dapat membuat saluran pernapasan mengalami iritasi.
Akibatnya, seseorang bisa mengalami batuk, tenggorokan terasa perih, atau hidung terasa tidak nyaman. Mata juga dapat terasa pedih dan berair.
Biasanya, keluhan muncul setelah seseorang berada di lingkungan yang penuh asap. Setelah menjauh dari sumber asap, keluhan dapat berkurang.
Perbedaan ISPA dan Iritasi Asap
Sekilas, ISPA dan iritasi asap memang memiliki beberapa gejala yang mirip. Keduanya dapat menyebabkan batuk dan rasa tidak nyaman pada saluran pernapasan.
Namun, ada perbedaan yang bisa diperhatikan. Iritasi asap biasanya muncul setelah seseorang terpapar asap secara langsung.
Sementara itu, ISPA merupakan kondisi yang berkaitan dengan infeksi. Gejalanya dapat tetap muncul meski seseorang sudah tidak berada di lingkungan yang penuh asap.
Selain itu, ISPA lebih mungkin disertai demam atau tubuh terasa tidak enak. Meski begitu, gejala saja tidak selalu cukup untuk menentukan penyebabnya.
Apa yang Bisa Dilakukan?
Jika mengalami gangguan setelah menghirup asap, segera menjauh dari sumber asap. Kemudian, cari tempat dengan udara yang lebih bersih dan sirkulasi yang baik.
Selanjutnya, perhatikan kondisi tubuh. Jika keluhan berkurang setelah menjauh dari asap, kemungkinan masalah berkaitan dengan paparan tersebut.
Namun, jangan mengabaikan gejala yang semakin berat. Jika batuk terus berlangsung, muncul sesak napas, nyeri dada, atau kondisi tubuh semakin lemah, sebaiknya segera mencari bantuan medis.
Dengan mengenali perbedaan ISPA dan iritasi asap, kita bisa lebih waspada terhadap kondisi saluran pernapasan. Jangan langsung menganggap batuk setelah terkena asap sebagai tanda ISPA.
Yang paling penting, kurangi paparan asap dan jaga kualitas udara di sekitar. Langkah sederhana ini dapat membantu menjaga kesehatan saluran pernapasan.
Sumber cnn

