Semarang, 2 Oktober 2026 – Talkshow Ruang Gaul kali ini kedatangan Sound of Panca. Band yang baru terbentuk pada 2026 tersebut membagikan cerita tentang perjalanan mereka. Selain itu, mereka juga membahas proses di balik album Menang untuk Kalah.
Menariknya, Sound of Panca sebenarnya tidak dibentuk sejak awal sebagai sebuah band. Para anggotanya sudah saling mengenal dan memiliki hubungan pertemanan serta pengalaman bermusik sejak lama. Namun, pada awalnya mereka justru memiliki rencana untuk membangun usaha bersama.
Berawal dari Produksi Film
Perjalanan Sound of Panca kemudian berubah ketika mereka terlibat dalam produksi film Menang untuk Kalah.
Film tersebut disutradarai oleh Hasto Broto. Sementara itu, penulisnya adalah Jujur Prananto. Dalam proses produksi, film membutuhkan musik untuk mendukung cerita.
Waktu pengerjaan musik juga cukup singkat. Proses tersebut hanya berlangsung sekitar dua bulan. Beberapa pilihan musik sebelumnya sudah dicoba. Namun, pilihan tersebut dinilai belum sesuai dengan kebutuhan film.
Akhirnya, para anggota diminta membuat musik sendiri. Dari proses inilah Sound of Panca mulai terbentuk.
Setelah itu, mereka mulai mengerjakan musik untuk film. Proses tersebut kemudian berkembang hingga menghasilkan album Menang untuk Kalah.
Album Menang untuk Kalah Punya Banyak Warna
Album Menang untuk Kalah berisi sembilan lagu utama dan dua versi akustik. Musik yang dihadirkan juga cukup beragam.
Mulai dari rock, metal, alternative pop, hingga pop bisa ditemukan dalam karya mereka. Meski begitu, para anggota tetap menyebut bahwa Sound of Panca memiliki DNA rock.
Salah satu lagu yang menjadi pembahasan dalam talkshow adalah “Baik Baik Tanpaku”.
Awalnya, lagu tersebut dianggap kurang sesuai dengan karakter musik Sound of Panca. Namun, ketika dibawakan secara langsung di Solo, respons penonton justru berbeda.
Penonton terbawa suasana saat lagu tersebut dimainkan. Bahkan, ada penonton yang sampai menangis karena merasa terhubung dengan liriknya.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu cerita menarik dalam perjalanan Sound of Panca membawakan lagu dari album Menang untuk Kalah.
Mengaransemen Ulang Lagu “Judi”
Selain “Baik Baik Tanpaku”, lagu “Judi” juga menjadi salah satu pembahasan dalam talkshow.
Lagu tersebut merupakan karya Rhoma Irama dari era 1970-an. Sound of Panca kemudian mengaransemen ulang lagu tersebut dengan nuansa rock yang lebih energik.
Dalam versi mereka, lagu tersebut juga menghadirkan Kang Rudi.
Pemilihan lagu “Judi” tidak terlepas dari keresahan yang menjadi salah satu latar belakang film dan album Menang untuk Kalah. Mereka membahas persoalan perjudian yang dinilai semakin dekat dengan kehidupan masyarakat.
Menurut Sound of Panca, persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan anak muda. Perjudian juga bisa terjadi pada berbagai kelompok usia.
Membawa Pesan Lewat Musik
Melalui karya-karyanya, Sound of Panca ingin menyampaikan pesan kepada masyarakat. Mereka berharap pendengar tidak terjebak dalam perjudian dan memilih aktivitas yang lebih positif.
Beberapa lagu lain, seperti “Suara Bukalat” dan “Kala Kelak”, juga disebut membawa pesan yang berkaitan dengan persoalan tersebut.
Menurut mereka, perubahan tetap bergantung pada setiap individu. Namun, aturan dan regulasi juga diperlukan untuk membantu mengatasi persoalan perjudian.
Karena itu, pesan dalam lagu tidak hanya ditujukan kepada pendengar. Pesan tersebut juga menjadi pengingat bagi para anggota Sound of Panca sendiri.
Sound of Panca Beraktivitas di Semarang
Selain membahas album, Sound of Panca juga bercerita tentang aktivitas mereka di Semarang.
Mereka datang ke beberapa radio, termasuk Radio Gaul FM. Selain itu, Sound of Panca dijadwalkan tampil di Ugris dalam acara inaugurasi.
Dalam penampilan tersebut, mereka akan membawakan sekitar delapan lagu. Salah satunya adalah lagu Menang untuk Kalah.
Kehadiran mereka di Semarang menjadi bagian dari aktivitas Sound of Panca dalam memperkenalkan karya sekaligus bertemu dengan pendengar.
Harapan Sound of Panca
Menjelang akhir talkshow, para anggota Sound of Panca menyampaikan harapan mereka untuk perjalanan band ke depannya.
Mas Nande berharap karya Sound of Panca bisa sampai ke hati para pendengar. Ia juga ingin karya tersebut dapat memberikan manfaat.
Sementara itu, Mas Alam berharap Sound of Panca bisa terus berkarya. Ia juga ingin band tersebut meninggalkan legacy yang baik untuk generasi berikutnya.
Kemudian, Mas Faris berharap Sound of Panca tetap eksis dan bisa menjangkau lebih banyak pendengar. Ia juga ingin pesan moral dalam lagu-lagu mereka bisa terus tersampaikan.
Menurut Mas Faris, pesan tersebut juga menjadi pengingat untuk para anggota. Mereka pun perlu menjaga diri agar tidak ikut terjebak dalam masalah yang mereka angkat melalui lagu.
Ditutup dengan Live Akustik
Talkshow Ruang Gaul bersama Sound of Panca akhirnya ditutup dengan penampilan live akustik.
Sebelum tampil, para anggota sempat berbincang santai dan bercanda bersama Ega Ratu. Setelah itu, mereka membawakan lagu “Tersisa Sesal” secara akustik.
Lewat perjalanan pembentukan band, album Menang untuk Kalah, hingga pesan yang mereka bawa melalui musik, Sound of Panca menunjukkan bahwa sebuah karya bisa lahir dari proses yang tidak selalu direncanakan sejak awal.
Kini, Sound of Panca melanjutkan perjalanan mereka dengan membawa musik, pesan, dan harapan untuk bisa menjangkau lebih banyak pendengar.
red. : Jessie


