Desa Namchang Korea Selatan Ramai Turis Usai Jadi Lokasi Film “Hope”

Semarang, 11 September 2026 — Sebuah desa pesisir di Korea Selatan mendadak ramai wisatawan setelah menjadi lokasi syuting film thriller “Hope” karya sutradara Na Hong-jin. Desa Namchang-ri di wilayah Haenam yang sebelumnya dikenal sepi kini menarik perhatian wisatawan dari berbagai daerah.

Fenomena ini menjadi contoh semakin populernya screen tourism, yaitu tren wisata yang muncul karena ketertarikan masyarakat terhadap lokasi yang tampil dalam film atau serial.

Lokasi Film “Hope” Jadi Tujuan Wisata

Sejak “Hope” dirilis pada 15 Juli, replika pos polisi yang dibuat untuk kebutuhan produksi film menjadi salah satu daya tarik baru di Namchang-ri.

Kawasan tersebut kini dikunjungi rata-rata 139 wisatawan setiap hari. Angka itu cukup besar jika dibandingkan dengan jumlah penduduk desa yang hanya sekitar 418 orang.

Melihat tingginya minat wisatawan, Pemerintah Haenam menyiapkan investasi sebesar 1,1 miliar won. Dana tersebut digunakan untuk mengembangkan kawasan Namchang menjadi jalan budaya dengan tema “Hope”.

Pengembangan itu mencakup replika mobil patroli, restoran yang berkaitan dengan adegan film, mural, hingga atraksi jejak kaki monster.

Screen Tourism Dongkrak Kunjungan Wisata

Popularitas film dan drama juga memberikan dampak terhadap sejumlah daerah lain di Korea Selatan.

Lokasi syuting drama sejarah “The King’s Warden” di Kabupaten Yeongwol, misalnya, mencatat lebih dari 801 ribu kunjungan pada Januari hingga Juli. Jumlah tersebut mencapai sekitar tiga kali lipat dibandingkan total kunjungan pada tahun sebelumnya.

Peningkatan wisata juga berdampak pada aktivitas ekonomi. Pengeluaran wisatawan dari luar daerah di Yeongwol tercatat naik 27,2 persen dalam empat minggu setelah film tersebut dirilis.

Wisatawan Ikut Meniru Adegan Film

Fenomena yang muncul bukan hanya wisatawan mendatangi lokasi syuting. Ada pula tren story-doing, ketika pengunjung mencoba merasakan atau melakukan kembali suasana yang mereka lihat dalam film.

Salah satu contohnya terjadi di sebuah waduk terpencil di wilayah Yesan yang menjadi lokasi film “Salmokji: Whispering Water”. Sejumlah wisatawan bahkan datang pada malam hari untuk merasakan suasana horor yang ditampilkan dalam film.

Karena kondisi tersebut berpotensi menimbulkan masalah keamanan, pemerintah setempat akhirnya mengeluarkan imbauan agar masyarakat tidak mengunjungi lokasi tersebut setelah malam hari.

Tidak Semua Lokasi Film Bisa Bertahan Lama

Meski dapat meningkatkan kunjungan dalam waktu singkat, popularitas lokasi syuting tidak selalu bertahan lama.

Pakar pariwisata dari Hanyang University, Jeong Ran-soo, mengatakan destinasi yang muncul karena film memiliki siklus popularitas yang relatif singkat. Agar bisa bertahan, sebuah lokasi perlu memiliki cerita yang kuat atau nilai sejarah yang membuat wisatawan tetap tertarik.

Contohnya terlihat pada Naju Image Theme Park yang pernah menjadi lokasi syuting drama “Jumong” pada 2006. Setelah menghabiskan biaya pembangunan dan pengembangan hingga 17,2 miliar won, tempat tersebut akhirnya ditutup pada 2023 karena kerugian operasional yang terus meningkat.

Sebaliknya, Pulau Nami mampu mempertahankan popularitasnya meski popularitas drama “Winter Sonata” telah berlalu. Salah satu upayanya dilakukan dengan menghadirkan inovasi dan konsep wisata baru, termasuk kawasan rekreasi bernama Naminara Republic.

Fenomena ini menunjukkan bahwa popularitas film memang dapat menjadi pintu masuk bagi sebuah daerah untuk menarik wisatawan. Namun, keberlanjutan destinasi tetap membutuhkan pengelolaan dan daya tarik yang mampu bertahan di luar popularitas sebuah film.

Sumber: CNN

Share