Semarang, 4 September 2026 – Pernah nggak kamu merasa kalau orang di suatu negara lebih mudah tersulut emosi dibanding negara lain? Ternyata, tingkat kemarahan masyarakat memang bisa diukur melalui survei. Data terbaru Gallup menunjukkan adanya perubahan dalam tingkat emosi negatif yang dirasakan masyarakat di berbagai negara.
Hasil tersebut kemudian menunjukkan sejumlah negara dengan tingkat kemarahan yang cukup tinggi. Menariknya, kondisi ini nggak selalu berarti masyarakat di negara tersebut memang punya sifat pemarah.
Negara dengan Tingkat Kemarahan Tertinggi
Dalam daftar yang dirilis pada 2026, Chad berada di posisi pertama dengan persentase masyarakat yang melaporkan mengalami kemarahan sebesar 47 persen. Posisi berikutnya ditempati Yordania dengan 46 persen.
Kemudian, Armenia berada di posisi ketiga dengan 43 persen. Sementara itu, Irak dan Sierra Leone sama-sama mencatat angka 40 persen.
Daftar tersebut masih berlanjut dengan Guinea sebesar 39 persen dan Republik Demokratik Kongo sebesar 38 persen.
Angka tersebut menggambarkan persentase responden yang mengaku mengalami kemarahan pada hari sebelum survei dilakukan. Jadi, data ini lebih menggambarkan pengalaman emosi masyarakat daripada memberikan label bahwa penduduk suatu negara memiliki karakter pemarah.
Kenapa Orang Bisa Lebih Mudah Marah?
Kemunculan suatu negara dalam daftar tersebut tentu nggak bisa dilepaskan dari kondisi sosial yang sedang dihadapi masyarakatnya.
Berbagai faktor seperti tekanan ekonomi, konflik, kondisi politik, keamanan, hingga masalah sosial dapat memengaruhi keseharian seseorang. Ketika tekanan tersebut berlangsung dalam waktu lama, emosi negatif juga bisa lebih sering muncul.
Selain itu, kemarahan merupakan salah satu emosi yang dapat muncul ketika seseorang menghadapi situasi yang dianggap tidak sesuai harapan. Karena itu, kondisi lingkungan juga dapat berpengaruh terhadap pengalaman emosi masyarakat.
Meski begitu, angka dalam survei tetap perlu dibaca dengan hati-hati. Tingginya persentase kemarahan tidak otomatis berarti seluruh masyarakat di negara tersebut mudah marah.
Bagaimana dengan Negara Lain?
Survei seperti ini memberikan gambaran mengenai kondisi emosi masyarakat secara global. Namun, hasilnya dapat berubah dari tahun ke tahun karena berbagai faktor yang memengaruhi kehidupan masyarakat.
Kondisi ekonomi, perubahan sosial, konflik, hingga peristiwa besar yang terjadi dalam suatu negara dapat ikut memengaruhi hasil survei.
Karena itu, daftar negara paling gampang marah sebaiknya dipahami sebagai gambaran mengenai pengalaman emosi masyarakat pada periode tertentu, bukan sebagai penilaian terhadap karakter suatu bangsa.
Pada akhirnya, setiap orang tentu bisa mengalami marah. Bedanya, seberapa sering emosi tersebut muncul dapat dipengaruhi oleh lingkungan dan kondisi kehidupan masing-masing.
Data ini juga menunjukkan bahwa emosi manusia ternyata bisa menjadi cerminan kondisi sosial. Jadi, ketika suatu negara memiliki tingkat kemarahan yang tinggi, ada baiknya kita nggak buru-buru menyimpulkan penduduknya pemarah. Bisa jadi, ada kondisi yang lebih besar di balik angka tersebut.
Sumber: cbnc


